Opini PublikPemerintahan

Amnesti, Abolisi, dan Simfoni Politik Sang Presiden

137
Amnesti, Abolisi, dan Simfoni Politik Sang Presiden

(R.Samorano)

Forumkota.com .Pasca putusan pidana terhadap dua politisi—Hasto Kristiyanto dan Tom Limbong—yang kemudian secara mengejutkan memperoleh amnesti dan abolisi dari Presiden, publik sontak terperanjat. Tidak sedikit yang tertegun, sebagian bahkan bersorak senang. Ini di luar kalkulasi kebanyakan orang. Dalam benak publik yang sudah lama muak dengan kisruh hukum, rasa-rasanya tak ada lagi ruang bagi harapan. Hukum, menurut mereka, sudah ambruk tak bersisa. Tapi seperti orkestra yang menanti aba-aba konduktor, justru pada titik klimaks kekecewaan itu, sebuah terobosan muncul.

Adalah Presiden yang, dengan langkah tenangnya, memutuskan memberi amnesti dan abolisi kepada dua sosok yang berada di dua kutub politik yang berbeda. Ini bukan sekadar langkah hukum. Ini adalah keputusan politik, yang eksekusinya nyaris tanpa cela.

Publik pun bertanya-tanya: siapa juru ramu di balik layar? Siapa “peracik” yang menyiapkan skenario ini dengan presisi—mencampur kepentingan hukum dan politik ke dalam satu gelas minuman manis bernama “rekonsiliasi”?

Sulit membayangkan langkah ini muncul tanpa rancangan matang. Presiden dan tim di sekitarnya tentu memahami betul proses hukum yang berjalan, lengkap dengan gelombang opini yang melambung di ruang digital. Sangat kecil kemungkinan bahwa ini terjadi begitu saja. Lebih mungkin, ini adalah bagian dari desain besar—manuver politik yang dikawal oleh analisis hukum yang cermat.

Dengan membiarkan proses hukum berjalan terlebih dahulu, pemerintah seolah mengambil sikap netral. Presiden tampak tak tersentuh oleh tekanan dan intervensi. Sementara itu, opini publik terus dipantau, dikaji, dan dianalisis. Lalu, saat saatnya tiba, Presiden meluncurkan dua keputusan monumental: amnesti dan abolisi. Dalam satu tembakan, dua sasaran tercapai: keuntungan politik (yang berarti peningkatan simpati dan legitimasi) serta pemulihan kepercayaan publik terhadap hukum.

Lebih jauh, ini adalah bentuk politik tinggi. Presiden bukan hanya menyelesaikan masalah, tetapi menyulapnya menjadi panggung pencitraan. Ia berhasil menundukkan dua lawan politik dengan senyum, bukan dengan luka. PDIP dan kubu Anies, dua kutub yang sempat berseberangan, kini sama-sama diuntungkan. Dan pada akhirnya, sama-sama berutang budi.

Lalu, siapa mastermind di balik simfoni ini? Nama Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, mulai bergaung dalam diskusi-diskusi politik. Ia disebut-sebut sebagai arsitek diam-diam di balik strategi ini. Jika benar, maka ini bukan hanya kemenangan presiden, tapi juga kemenangan tim kreator yang paham benar cara memainkan catur kekuasaan.

Dalam politik, menang bukan soal membungkam lawan, tapi membuat lawan bersedia duduk di meja yang sama tanpa merasa kalah. Dan kali ini, Presiden menang. Dengan cara yang cantik.

 

*Pembina LBH FORpKOT

 

Exit mobile version