BeritaEkonomiRegion

Kisruh Soal Penghasilan Pengrajin Seragam Batik ASN, Ketua Koperasi Akui Ongkos Pekerjaan Rengrengan Hanya Rp. 8000 Per-Kain

221
×

Kisruh Soal Penghasilan Pengrajin Seragam Batik ASN, Ketua Koperasi Akui Ongkos Pekerjaan Rengrengan Hanya Rp. 8000 Per-Kain

Sebarkan artikel ini
Kisruh Soal Penghasilan Pengrajin Seragam Batik ASN, Ketua Koperasi Akui Ongkos Pekerjaan Rengrengan Hanya Rp. 8000 Per-Kain
Para Pengrajin Batik Tulis Khas Sumenep

SUMENEP | Forumkota.com – Simpang siur soal berita penghasilan pengrajin seragam batik Aparatur Sipil Negara (ASN) motif beddei di Desa Pakandangan Barat, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, yang tembus 3 (tiga) kali lipat Upah Minimum Kabupaten (UMK) tampaknya semakin menarik perhatian publik.

Pasalnya, Junaidi selaku Ketua Koperasi yang mengakomodir hasil produksi seragam batik ASN motif beddei dari para pengrajin batik di Desa Pakandangan Barat mulai memberikan tanggapan kepada awak media ini.

Dengan percaya diri Junaidi mengatakan jika penghasilan pengrajin batik motif beddei di Desanya telah tembus 1,5 juta perminggu.

” Jika omset mereka para pengrajin sesuai dengan banyaknya pekerja yang mereka punya, dan masing2 bisa mencapai target 40 lembar perminggu, maka itu sangatlah betul👍 seperti apa yang telah di beritakan di Media, bahwa penghasilan mereka para produsen 1,5 (Rp 1.500.000) Perminggu. Kenapa dibilang HOAX 😱,” kata Junaidi, melalui pesan aplikasi wathsapnya, Senin malam (06/03).

Namun ketika disinggung soal biaya produksi per-potong kain batik ASN lengkap dengan ongkos pekerjaan TEMBOKAN dan RENGRENGAN? Yang bersangkutan enggan untuk memberikan penjelasan secara detail kepada awak media.

Dia hanya menjawab jika ongkos pekerja RENGRENGAN per-potong kain sebesar Rp. 8000.

” 1 (satu) pekerja RENGRENGAN dalam satu hari rata-rata mampu menyelesaikan 5 potong kain. Satu pekerja tembokan jika disiplin waktu satu hari bisa 3 potong kain atau lebih,” ungkap Junaidi.

Saat kembali ditanya soal penghasilan dari pengrajin yang bekerja RENGRENGAN jika dikalkulasi dalam 1 bulan sebesar Rp 1.200.000., apakah cukup dibuat makan selama 1 bulan?

Namun sayang pria yang diketahui kakak kandung dari CEO PT Canteng Koneng ini lagi-lagi terkesan enggan memberikan penjelasan kepada awak media.

” Silahkan kamu datang ke pekerja langsung biar tahu apa kata mereka tentang pekarjaan membatik yang sekarang dan yang sebelumnya,” ujarnya.

Karena masih penasaran soal biaya produksi batik motif beddei, awak media kembali mencoba melayangkan pertanyaan kepada Junaidi.

Sayang seribu sayang, pertanyaan awak media lagi-lagi tidak mendapat jawaban yang jelas.

Sang Ketua Koperasi yang rupawan itu malah menyuruh awak media untuk menemuinya secara langsung.

” Makanya kamu datang langsung temui saya biar jelas,” tukasnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Wakil Ketua Dear Jatim Korda Sumenep, Ali Rofiq membeberkan hasil investigasinya soal pendapatan para pengrajin batik motif beddei di Desa Pakandangan Barat.

Dijelaskan Ali Rofiq, satu orang pekerja Rengrengan dalam 1 hari hanya mampu menyelesaikan maksimal 4 potong kain batik dengan ongkos per kain Rp. 8.000 x 4 potong = Rp. 32.000.

TEMBOKAN : satu orang pekerja dalam 1 hari hanya mampu menyelesaikan rata-rata 2 potong kain batik dengan ongkos Rp. 12.000 x 2 = Rp. 24.000

” Jadi dengan harga 135 ribu Per-potong, 1 orang pengrajin hanya mengantongi keuntungan 17.000/potong. Dalam 1 Minggu hanya mampu menyelesaikan batik 15 potong dengan penghasilan Rp. 255.000,” ujarnya.

Lantas Rofiq mempertanyakan data apa dan yang mana yang digunakan sehingga UMKM pengrajin batik motif beddei ini sudah mendapatkan penghasil 6 juta perbulan.

” Jangan-jangan data abal-abal yang digunakan? Kalau digabung sama modalnya mungkin lebih masuk di akal,” tegasnya.

Rofiq menegaskan, jika Dear Jatim Korda Sumenep akan terus sengkarut pengadaan seragam batik ASN ini sampai Bupati memberikan penjelasan secara terbuka di ruang publik.

” Kita tantang Bupati untuk menjelaskan penghasilan UMKM pengrajin batik seragam ASN di ruang terbuka. Kita adu data, punya siapa yang lebih akurat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan